Bertumbuh Menjadi Guru: Belajar, Bermain, dan Memahami Murid
Perjalanan mengikuti PPG dan PPL di SLBN A Pajajaran menjadi bagian penting dalam proses saya bertumbuh sebagai calon guru Pendidikan Khusus. Melalui pengalaman mengajar, saya belajar memahami kebutuhan murid dan mengembangkan pembelajaran kreatif melalui permainan edukatif, seperti TAMASOS dan Jejak Akulturasi. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan setiap murid.

Bertumbuh Menjadi Guru: Belajar, Bermain, dan Memahami Murid
Menjadi guru merupakan perjalanan yang membuat saya terus belajar dan mengenal banyak hal baru. Selama mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), saya mulai memahami bahwa tugas guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mengenali karakteristik murid, memahami kebutuhan mereka, dan menemukan cara belajar yang sesuai. Saya menyadari bahwa setiap murid memiliki kemampuan, pengalaman, dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, pembelajaran perlu dirancang agar tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga menarik dan bermakna bagi murid.
Pemahaman tersebut semakin berkembang ketika saya menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SLBN A Pajajaran. Melalui pengalaman mengajar secara langsung, saya belajar bahwa merancang pembelajaran membutuhkan lebih dari sekadar menyiapkan materi dan lembar kerja. Saya perlu memikirkan bagaimana murid dapat terlibat aktif, memahami konsep yang dipelajari, serta memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Pengalaman ini membuat saya semakin tertarik untuk mengembangkan pembelajaran yang kreatif melalui permainan edukatif dan aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal yang saya sukai dalam merancang pembelajaran adalah mencari cara agar materi yang awalnya terasa sulit dapat dipelajari dengan lebih menyenangkan. Menurut saya, permainan dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu murid memahami materi. Melalui permainan, murid tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas, mencoba, berpikir, dan menghubungkan materi dengan situasi yang mereka kenal.
Ketertarikan tersebut saya tuangkan dalam pengembangan TAMASOS atau Tangga Mobilitas Sosial. Permainan ini dirancang untuk membantu murid mempelajari konsep mobilitas sosial melalui konsep tangga dan kartu kasus. Melalui aktivitas tersebut, murid diajak mengenali situasi yang berkaitan dengan perubahan kedudukan sosial serta menghubungkannya dengan konsep yang dipelajari dalam IPS. Saya ingin materi mobilitas sosial tidak berhenti sebagai definisi yang harus diingat, tetapi dapat dipahami melalui contoh dan aktivitas yang lebih konkret.
Selain TAMASOS, saya juga mengembangkan gagasan permainan Jejak Akulturasi dalam pembelajaran IPS. Gagasan ini berangkat dari keinginan saya untuk mengenalkan materi akulturasi budaya melalui kegiatan belajar yang lebih menarik. Saya ingin murid memperoleh kesempatan untuk mengenali percampuran unsur budaya dan memahami bagaimana kebudayaan dapat saling memengaruhi. Melalui pengembangan permainan edukatif, saya berusaha menjadikan materi tersebut lebih menarik dan mudah dipelajari.
Proses mengembangkan kedua permainan tersebut memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Saya belajar bahwa membuat permainan pembelajaran bukan hanya tentang menentukan bentuk permainan yang menarik, melainkan juga memikirkan tujuan pembelajaran, materi yang ingin disampaikan, aturan kegiatan, serta keterlibatan murid selama proses berlangsung. Permainan perlu dirancang agar setiap aktivitas tetap mengarah pada tujuan pembelajaran. Dengan demikian, suasana belajar yang menyenangkan dapat berjalan seiring dengan pemahaman materi.
Pengalaman PPL juga mengajarkan saya pentingnya menyesuaikan strategi dan media pembelajaran dengan karakteristik murid. Saat mengajar murid tunanetra, misalnya, saya perlu mempertimbangkan aksesibilitas materi agar dapat dipahami melalui cara yang sesuai. Dalam pembelajaran IPS tentang peninggalan Hindu-Buddha, saya menggunakan miniatur candi yang dapat dieksplorasi melalui perabaan, disertai penjelasan verbal. Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa media pembelajaran tidak selalu harus rumit atau menggunakan teknologi canggih. Media sederhana pun dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna apabila dirancang dan digunakan sesuai dengan kebutuhan murid.
Saya juga belajar bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya dilihat dari selesainya kegiatan atau banyaknya materi yang disampaikan. Guru perlu memperhatikan respons murid, melihat bagian yang sudah dipahami, serta mengenali hal-hal yang masih membutuhkan penguatan. Ketika suatu strategi belum memberikan hasil yang diharapkan, guru perlu bersedia mengevaluasi dan menyesuaikan kembali kegiatan pembelajaran. Dari proses tersebut, saya semakin memahami pentingnya refleksi sebagai bagian dari pengembangan profesional seorang guru.
Bagi saya, pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti sekadar bermain atau membuat kelas menjadi ramai. Kegiatan belajar tetap harus memiliki tujuan yang jelas dan memberikan kesempatan kepada murid untuk memahami materi. Saya ingin permainan yang dikembangkan dapat membantu murid lebih aktif, berani mencoba, dan memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Saya juga ingin terus belajar membuat kegiatan yang dapat diakses oleh murid dengan karakteristik dan kebutuhan yang beragam.
Melalui PPG dan PPL, saya semakin menyadari bahwa menjadi guru profesional merupakan proses yang terus berkembang. Masih banyak hal yang perlu saya pelajari, mulai dari memahami kebutuhan murid, mengembangkan strategi pembelajaran, memilih media yang tepat, hingga melakukan refleksi terhadap praktik mengajar. Setiap pengalaman memberikan kesempatan bagi saya untuk memperbaiki diri dan menemukan cara yang lebih baik dalam mendampingi murid belajar.
Ke depannya, saya ingin menjadi guru Pendidikan Khusus yang kreatif, sabar, terbuka terhadap pembelajaran baru, dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung setiap murid. Saya ingin murid merasa nyaman untuk belajar, berani mencoba, dan tidak takut ketika melakukan kesalahan. Bagi saya, salah satu hal paling bermakna dalam proses mengajar adalah ketika murid mulai memahami sesuatu yang sebelumnya terasa sulit dan menyadari bahwa mereka mampu melakukannya.
Perjalanan saya menjadi guru profesional masih terus berjalan. Saya percaya bahwa guru juga merupakan seorang pembelajar yang perlu terus bertumbuh bersama muridnya. Melalui pengalaman PPG, PPL, dan berbagai upaya mengembangkan pembelajaran kreatif, saya berharap dapat terus memperbaiki diri dan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Sebab, bagi saya, menjadi guru bukan hanya tentang mengajarkan sesuatu kepada murid, tetapi juga tentang terus belajar, memahami, dan menemukan cara terbaik untuk mendampingi mereka.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.